# selamat datang di situs masjid istiqamah # ... salurkan Infak dan wakaf anda untuk pembangunan masjid Istiqamah melalui BRI cab Solok, rekening 0091-01-010424-53-4 AN Ibuk Nur Aini

11 April 2014

Jenis-jenis Tawassul

1. Tawassul dengan Asma Allah Ta’ala.
Dalilnya adalah:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu...”
(QS. Al A’raf (6): 180)
Contoh: kalimat Yaa Rahmaan Irhamnii .. (Wahai Yang Maha Pengasih, kasihinailah aku ..)
2. Tawassul dengan minta doanya Orang shalih ketika hidup
Berkata Syaikh Shalih Fauzan Hafizhahullah:
وقد استسقى عمر بن الخطّاب- رضي الله تعالى عنه- بدعاء العبّاس عمّ الرسول صلى الله عليه وسلم، وقال:"اللهم إنّا كُنّا نستسقي بنبينا فتسقينا، وإنا نستسقي بعمّ رسولك، قم يا عبّاس فادعو"، فيدعو العبّاس والنّاس يؤمنِّون. وهذا توسُّل بدعاء الصالحين، وكما توسّل معاوية رضي الله عنه بيزيد الجُرْشي، وغيرُهم.
“UmarbinAl Khathab Radhiallahu ‘Anhu pernah beristisqa (minta hujan) dengan doanya Al ‘Abbas, paman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu meminta hujan dengan Nabi kami dan Kau telah memberi hujan kepada kami, dan sesuangguhnya kami beristisqa dengan paman RasulMu,”Bangunlah ‘Abbas, lalu berdoalah.” Maka Al ‘Abbas berdoa dan manusia mengaminkan. Inilah tawassul dengan doa orang shalih, sebagaiman tawassulnya Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu dengan Yazid Al Jursyi, dan selain mereka.”
3. Tawassul dengan Amal Shalih
Dalilnya adalah kisah tiga orang yang terjebak di gua lalu mulut gua tersebut tertutup batu besar. Untuk membukanya mereka berda kepada Allah Ta’ala dengan bertawassul kepada Allah Ta;ala melalui amal shalih yang pernah mereka lakukan masing-masing. Kisah ini masyhur.
Tiga Tawassul ini telah ditekankan oleh Syaikh Al Albani sebagai Tawassul yang masyru’ (disyariatkan), dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi pun menguatkan pendapat Syaikh Al Albani ini.
4. Tawassul kepada Allah Ta’ala dengan perantara Keimanan kepada Allah Ta’ala
Dalilnya:
رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِياً يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ
“Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu):"Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", Maka Kamipun beriman. Ya Tuhan Kami, ampunilah bagi Kami dosa-dosa Kami dan hapuskanlah dari Kami kesalahan-kesalahan Kami, dan wafatkanlah Kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.”
(QS. Ali Imran (3): 193)
5. Tawassul kepada Allah Ta’ala dengan Keimanan dan Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam
Dalilnya:
رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِين
“Ya Tuhan Kami, Kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah Kami ikuti rasul, karena itu masukanlah Kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)
"(QS. Ali Imran (3): 53)
6. Tawassul kepada Allah Ta’ala dengan Tauhid
Syaikh Shalih Fauzan Hafizhahullah berkata:
والتوسُّل بالتّوحيد: (أسألك بأنّك أنت الله لا إله إلاَّ أنت)، وكما توسّل ذو النون - عليه الصلاة والسلام- وهو في بطن الحوت: {فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ}
“Tawassul dengan tauhid: “Aku minta kepadaMu, karena Engkaulah Allah Tiada Ilah kecuali Engkau.” Sebagaimana tawassulnya Dzun Nun (Nabi Yunus ‘Alaihissalam), ketika di perut ikan, dia berdoa: “ Maka ia menyeru dalam Keadaan yang sangat gelap :"Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim."
(QS. Al Anbiya (22): 87).”
Demikianlah tawassul yang disepakati kebolehannya.(Lihat Syaikh ShalihbinFauzan Al Fauzan, I’anah Al Mustafid bi Syarhi Kitabut Tauhid, Juz. 3, Hal. 369-370, cet. 3, 1423H/2002M. Al Muasasah Ar Risalah)
Sementara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah ditanya bolehkah bertawasul dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau menjawab:
أَمَّا التَّوَسُّلُ بِالْإِيمَانِ بِهِ وَمَحَبَّتِهِ وَطَاعَتِهِ وَالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَيْهِ وَبِدُعَائِهِ وَشَفَاعَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا هُوَ مِنْ أَفْعَالِهِ وَأَفْعَالِ الْعِبَادِ الْمَأْمُورِ بِهَا فِي حَقِّهِ . فَهُوَ مَشْرُوعٌ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ وَكَانَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ يَتَوَسَّلُونَ بِهِ فِي حَيَاتِهِ وَتَوَسَّلُوا بَعْدَ مَوْتِهِ بِالْعَبَّاسِ عَمِّهِ كَمَا كَانُوا يَتَوَسَّلُونَ بِهِ
“Ada pun bertawassul dengan beriman kepadanya (Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salam), mencintainya, mentaatinya, bershalawat dan salam atasnya, dengan doanya dan syafa’atnya dan yang lainnya, baik bertawassul dengan perbuatannya, dan perbuatan manusia yang diperintahkan sesuai haknya. Maka, itu adalah perbuatan yang disyariatkan sesuai kesepakatan kaum muslimin, dan para sahabat bertawassul dengannya pada masa hidupnya, dan bertawassul kepada Al Abbas, pamannya, setelah kematiannya, sebagaimana dahulu mereka bertawassul dengannya (ketika masih hidup, pen).”
(Majmu’ Al Fatawa, Juz. 1, Hal. 140)

0 komentar:

Posting Komentar

E-book Gratis

  •